TITIK TERANG, MISI PERTAMAKU MENGENALNYA

CATATAN BELAJAR KE-1 ILMU KALAM

NAMA        : AUFI NADILA
NIM            : 201520039
KELAS       : BKI 1/A


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Ba'da salam terucap ungkapan syukur kepada Rabb Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rabb seluruh alam, bertutur mengiringi perjalanan saya menulis tugas ini sebagai syarat untuk merampungkan tugas 1 yang telah diberikan untuk menunjang pembelajaran mandiri selama masa pandemi.

Shalawat yang tak henti terucap bertautan dengan kerinduan demi mengharap syafa'at Baginda Nabi Muhammad S.A.W. Nabi akhir zaman yang kelak akan memperjuangkan ummatnya pada Yaumul Hisab.

Ini adalah postingan ke- 2 dalam blog pribadi milikku, setelah lama pasif menulis Allah mempertemukan ku dengan seorang guru yang bernama Bapak Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum. Dosen pengampu mata kuliah ilmu kalam yang memberikan sebuah tugas besar bagiku, misi belajar, mengulas, serta berdakwah dalam media jurnal ini saya rasakan melalui tugas yang beliau berikan.

Baiklah tugas ini adalah tugas yang paling menyenangkan sekaligus membingungkan dan membuat saya antusias dalam menekuni hal-hal yang saya lakukan untuk tugas ini, terlebih lagi Ilmu Kalam adalah pelajaran yang saya nantikan dan harapkan untuk saya pelajari sejak duduk dibangku Aliyah.

Sabtu, 03 Oktober 2020

Saya menerima kabar via WhatsApp (WA) beliau memberikan beberapa tugas diantaranya adalah tugas yang sedang saya kerjakan ini berupa catatan belajar, sebelum masuk pada Tema 1 saya sedikit menjelaskan kesan pertama mengenal beliau. Awalnya saya mengira beliau adalah tipikal dosen-dosen killer yang digaungkan mahasiswa, ya wajar saja buat seorang maba seperti saya ragu dan sungkan bertanya kepada beliau, terlebih pembawaan pesan beliau yang tegas, juga disiplin. Tapi dugaan itu ternyata salah, beliau berbeda dengan dosen-dosen lainnya, gaya penyampaian semi formalnya yang khas tapi nyaman didengar juga bimbingan dan arahan beliau yang luar biasa membuat saya senang diajarkan olehnya, beliau memang pengajar sekaligus pembiming tetapi kesan mendidiknya layaknya seorang ayah pada anak-anaknya, berwibawa, humoris, tegas, lembut, perhatian juga beliau tampilkan dalam sosoknya walaupun sekedar terlihat dalam layar kaca handphone ku hehe.

 

TEMA 1 AKIDAH ISLAM (KETUHANAN)

Saya mengangkat subjek pembahasan Ketuhanan karena kebutuhan saya mengenal Sang Pencipta Alam ini dan pemilik jiwa-raga yang saya miliki sekarang. Pertengahan tahun 2016 dimulainya ajaran baru di Sekolah, kala itu saya masih duduk dibangku kelas 8 SMP. Saya merasakan beberapa problem dalam diri saya yang mempertanyakan kelekatan diri saya dengan penciptanya karena kurangnya ilmu yang saya dapatkan. Hingga teman ku membawakan sebuah buku berjudul JEJAK LANGKAH MENGENAL ALLAH karangan Asfa Davy Bya. Dimulailah kala itu pencarian dan pemenuhan ilmu keyakinan yang menjadi perjalanan terhebat bagi saya menemukan sebuah Titik Terang dalam kehidupan. Disamping itu subjek yang kali ini saya paparkan adalah tema yang mendalam dan juga kompleks untuk dibahas.

Maka dari itu, saya kembali mengulas dan mengingat-ingat apa yang saya dapatkan beberapa tahun lalu hingga saat ini, dari sebuah misi pencarian karena desakkan pertanyaan didalam benak, hingga saya menemukan sebuah titik terang, bahwa sebelum kita mengenal Dzat Maha Kuasa Allah S.W.T kita haruslah terlebih dahulu mengenal tujuan diciptakannya manusia. Kita telah lama dikenalkan islam, namun kelekatan penghambaan itu menyeruak dari benak masing-masing jiwa yang berinteraksi dengan-Nya.


MENGENAL KEBERADAAN ALLAH

          Tentu setiap orang memiliki pola pendidikan dan lingkungan tersendiri yang menjadikan kelekatan dengan agama dan keyakinannya berbeda-beda. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan mulia, karena manusia diciptakan dengan akal oleh Allah dan diberikannya ilmu pengetahuan untuk berfikir, seyogyanya manusia senantiasa menyadari kekuatan besar yang hadir dalam dirinya dan itu adalah bentuk sebuah pengakuan secara naluriah bahwa adanya pencipta Sang Maha Kuasa.

          Pada masa kini pendidikan dan gelar adalah suatu yang penting dalam kehidupan kita, menjadikan kita bergantung dan menyombongkan akal yang diberikan Allah S.W.T, betul saja tak dapat dielakkan banyak dari Ummat Muhammad yang terombang-ambing dalam dilema kehidupan terlebih lagi, mirisnya banyak dari kita berada pada jurang kemiskinan ilmu islam karena kurangnya pemahaman dan minat membaca juga kesombongan yang merasa cukup dengan apa-apa yang dimiliki. Padahal sasaran pengetahuan kita yang paling utama adalah mengenal Tuhan dan perintah-perintah-Nya tak terlepas pada apa yang kita pelajari, maka dari itu, semua ilmu yang kita pelajari kita kembalikan pada hal yang paling mendasar yaitu mempelajari dan mengenal Tuhan. Abu Hatim al-Asham berkata “Aku telah memilih empat hal untuk diketahui, dan mengesampingkan pengetahuan dunia.” Dan dia lalu ditanya, “Apa saja itu?”

          Jawabannya “satu, aku mengetahui roti sehari-hariku telah diberikan untukku, dan tidak akan bertambah meupun berkurang; akibatnya, aku telah berhenti berupaya menambahnya. Kedua, aku mengetahui bahwa aku punya hutang terhadap Allah dan tidak ada orang lain yang bisa membayarnya kecuali aku sendiri; karena itu, aku berupaya membayarnya. Ketiga, aku mengetahui bahwa selalu ada yang memburuku (yaitu maut), darinya aku tidak bisa melarikan diri; karena itu, aku telah mempersiapkan diriku untuk menemuinya. Keempat, aku mengetahui bahwa Allah melihatku, karena itu aku malu berubuat apa yang seharunya tak kuperbuat.”

          Dibangku pendidikan sebelumnya, kita telah diperkenalkan dan diajarkan ilmu-ilmu ketuhanan, namun tanpa sadar, hanya sedikit dari kita yang merasakan kelekatan itu hadir dalam diri, dikarenakan sebab pengenalan hanya sampai pada teori, sedangkan perasaan yang didapat untuk mengakui keberadaannya adalah dengan mempraktikan ibadah sebagai bentuk patuh pada perintah-Nya dan juga meyakini bahwa Allah itu ada. Laa ilaaha illallah (tidak ada ilah selain Allah). Dan kita dapat meyakini hal tersebut dengan karunia-karunia yang Allah berikan kepada kita diantaranya manusia diciptakan untuk berfikir selain karena hikmah dibalik pencipataan alam semesta adalah, adanya kehendak Allah untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya yang azali kepada semua makhluk-Nya, baik yang berupa aturan-aturan-Nya, anugerah-Nya, ataupun juga ketentuan takdir-Nya, yang mana Dia akan membalas perbuatan hamba-hamba-Nya di dunia dengan balasan yang setimpal di akhirat. – ­Jejak Langkah Mengenal Allah, karya Asfa Davy Bya, Maghfirah Pustaka cetakan ketiga, Juli 2005.



       Selain daripada hal diatas, kita juga dapat mengenal keberadaan Allah dengan meyakini dan membaca Al-Qura’an sebagai kalamullah (perkataan Allah), Ayat-ayat Qauniyah (ayat Allah yang berupa ciptaannya) ini juga menjadi alat untuk kita mengenal keberadaan Allah dengan melihat kompleksnya alam semesta ini diciptakan. – Luasnya Ayat-ayat Allah-Ilmu Hati video source of yotube https://youtu.be/VT4WHM6Snd
                                                                            

SEUTUHNYA MEYAKINI ALLAH ITU ESA

          Kita dapat meyakini hal ini dengan mencermati kandungan surah Al-Ikhas;

1.     Katakanlah; “Dialah Allah, yang Maha Esa.

2.     Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3.     Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan,

4.     Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kawan, dalam surat tersebut telah jelas bagaimana Allah menerangkan kepada kita bahwa Dialah Yang Maha Esa, tempat bergantung semua makhluk-Nya. Namum disini saya akan mengupas sedikitnya 1 ayat dari surah al-ikhlas ini.

Q.S Al-Ikhlas ayat 1 berbunyi “Qul huwallahu ahad” yang memiliki kode meng-Esa-kan Allah. Sewaktu duduk dibangku Aliyah, saya mempelajari ilmu Aqidah Akhlak yang disampaikan oleh Bapak Wahyudi, M.Pd, beliau berkata; “Mengapa surah Al-Ikhlas tidak disebutkan kata Ikhlas didalamnya seperti surah-surah lainnya? Dan kenapa Allah berfirman; Dialah Allah Yang Maha Esa. Padahal Allah berfirman untuk mengakui bahwa diri-Nya-lah satu-satunya Ilah di alam semesta ini.” Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itulah satu persatu mulai terjawab dan dituturkan oleh beliau dan juga saya mencari beberapa ilmu tambahan lainnya dari youtube.

 Pada ayat pertama surah al-ikhlas secara singkat yang telah saya dapatkan adalah, mengapa Allah berfirman “Katakanlah, Dialah Allah.” Perspektif dan logikanya itu mengatakan bahwa Allah berfirman ada Tuhan lain, selain dirinya. Namun kita, perlu ketahui pada ayat pertama surah Al-Ikhlas, bila merujuk pada asal kata dari peradaban bahasanya sangat luas. Saya disini menggunakan kata “Huwa” dalam ayat tersebut dari sejarah tasawuf “Hu” berarti AKU, salahkah terjemahan Al-Qur’an? “Katakanlah; Dialah Tuhan Yang Maha Esa.” Tentu tidak. “Hu” dalam tasawuf yang berarti aku yang mengartikan ayat tersebut sebenar-benarnya meng-Esa-kan Allah S.W.T jika diartikan secara keseluruhan “Katakanlah; Akulah Allah Yang Maha Esa.” Jika diteliti dari peradaban serta perbedaan pendapatnya ini akan sangat luas sekali. Maka cukuplah kita memahami perspektifnya bahwa Allah berfirman “Akulah Allah Yang Maha Esa.” Karena adanya perbedaan perspektif pada surah al-ikhlas inilah yang menimbulkan kesalah pahaman, dan dijadikannya arti "Dialah" agar tidak ada lagi sebab paham yang berbeda dan inilah alasan mengapa manusia di-dewakan pada zaman dahulu, dari sini kita dapat mengambil contoh kisah Syaikh Siti Jenar yang mungkin pada kesempatan lain saya akan ceritakan, dan dari hal ini juga mudah-mudahan kita lebih bijak memahami konflik yang dipicu perbedaan perspektif syariat dan hakikat dalam agama. – Ilmu Tertinggi Rahasia Surah Al-Ikhlas video source of youtube https://youtu.be/fygDgzcD4dU 


LEBIH DEKAT DENGAN DZAT MAHA KUASA

          Dalam hal ini saya tidaklah banyak memaparkan materi melainkan pengalaman nyata yang saya rasakan dan membuat saya yakin akan Kuasa Allah. Disini saya menjelaskan dua sifat Allah yang Maha Kuasa memberi Rizki dan Jalan Keluar serta cinta-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya.

          Berangkat dari awal tekad saya untuk melanjutkan pendidikan di suatu Madrasah Aliyah. Singkat cerita saya tidak bisa melanjutkan pendaftaran pada Madrasah-madrasah Aliyah yang berada di Kota ku karena nilai yang kurang dan keterlambatan pendaftaran, dengan tekad dan nekat saya mencoba mencari informasi lain dan dapatlah info pendafaran mengenai Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Cilegon yang saat itu masih buka.(dan menjadi tempat saya melanjutkan pendidikan kala itu). Saya ditemani dengan seorang teman bernama Chusnul Khotimah dan kami pun berangkat kesana pada Hari Jum’at 29 Sya’ban 1438 (26 Mei 2017) tepat 1 hari sebelum Puasa Ramadhan. Tanpa sepengetahuan orang tua saya berangkat dengan uang seadanya dan menggunakan kendaraan umum, keterbatasan informasi lokasi pun tak menghalangi kami. Sesampainya disana, ternyata bagian administrasi sudah ditutup lebih awal dikarenakan hari Jum’at, lalu kami memutuskan untuk berkeliling untuk melihat-lihat daerah sekitar sekolah, setelahnya kami pulang dan mampir disebuah warung, tetapi saat ingin membeli sesuatu temanku bilang bahwa uangnya tertinggal, panik!! Saat itu yang kami rasakan, akhirnya kami hanya membeli satu botol air mineral untuk berdua dan pulang.

          Diperjalanan saya terus memikirkan bagaimana cara kita bisa pulang kembali ke Kota Serang, sampai akhirnya ditempat menunggu Angkutan Umum kami berhenti untuk saling bicara, akhirnya kita memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat pemberhentian Angkutan Umum (angkot) kedua, ya karena kami harus menaiki angkot dua kali, jadi sisa uang yang saya miliki hanya cukup untuk kita berdua pulang menaiki angkot jurusan Kota Serang (angkot kedua). Sepanjang jalan kita berjalan sambil berbincang, temanku menyesali kecerobohannya dan terus merasa bersalah, apalah daya saya hanya mampu berkata ini adalah bagian dari ketetapan-Nya (Qadarullah) dan saya terus berupaya meyakini temanku bahwa Allah itu mendengar do’a hamba-Nya yang dalam kesulitan, dan Allah mengetahui apa yang kita butuhkan. Sambil merefleksi sejenak buku yang sebelumya saya baca dengan penuh penyesalan tersisa, karena setelah ditolaknya saya dari sekolah yang diharapkan.    Sejauh 8 kilometer kami berjalan, dan sempat berhenti sewaktu Ashar tiba, akhirnya kami sampai pada pemberhentian angkot kedua, jam 17.38 WIB. Syukur kami masih bisa pulang dan selamat, tapi ada SATU HAL YANG MEMBUAT KAMI TERSENTAK. Ya kami menyaksikan uang yang semula kita akan gunakan membayar ongkos seadanya, pas-pasan, bahkan kurang, uang itu bertambah entah darimana asalnya, uang itu jelas-jelas kami hitung kembali dengan teiliti jumlahnya tidak banyak memang, tapi bagi kami bertambah dua kali lipat dari sebelumnya tanpa kita gunakan atau apapun sangat membuat kami terkejut dan haru, kami menahan tangis, saat turun dari angkot kami masih mempertanyakan uang itu, tapi akhirnya kami tidak mau menggunakan dan memasukkannya dalam kotak amal.

          Ternyata itulah titik dari keyakinan sesungguhnya yang membuat kami lekat dengan-Nya Dzat Maha Kuasa. Karena ayat yang kami bahas sebelumnya adalah ;

Q.S At-Thalaq ayat 2-3

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Dia akan memberikannya Jalan Keluar. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertwakkal kepada Allah, Niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Ayat diatas adalah sebuah prinsip sekaligus refleksi dari buku yang saya baca 1 hari sebelumnnya yaitu Quantum Ramadhan Meraih Takwa di Bulan Puasa, karya M. Rojaya.



Dari buku itulah tumbuh keyakinan saya akan kuasa Allah dan benih cinta yang mulai tumbuh merobek tirai keangkuhan yang kumiliki. Terlebih soal cinta saya akan mengutip dari sebuah novel penggugah jiwa saya juga yang berjudul Layla Seribu Malam Tanpamu, karya Candra Malik.

”Cinta Selalu Melahirkan Kasih Sayang, Tetapi Kasih Sayang Tak Selalu Dilahirkan Oleh Cinta.” dan

“Beruntung sekali hamba yang dicintai Allah. Terlebih lagi Allah meminta kita mencintai tanpa ada embel-embel menyayangi-Nya. Wah repot kalau kita harus menyayangi Allah. Niscaya tak akan pernah sanggup. Sebab kasih sayang akan menuntut kita mengurus dan merawat yang kita kasihi dan sayangi itu.”

Dari novel inilah saya sadar Allah telah mengasihi dan menyayangi kita dalam berbagai perwujudan namun sayangnya kita belum mampu mencintai-Nya karena tanpa sadar masih ada keragu-raguan yang harus ditepis untuk menumbuhkan cinta itu. Sebab ketika kita cinta akan pemilik cinta, rasa akan mengasihi pun akan timbul untuk sesamanya. Indahnya Allah memberikan kita bentuk-bentuk ujian sebagai bentuk cinta-Nya.


Allahul Musta’an...

Cukup panjang sekali blog ini, ya karena pembahasannya yang mendalam serta kompleks untu saya ulas, dan saya coba untuk ringkas, seringkas-ringkasnya semoga kita dapat mengambil nilai-nilai positif yang ada dalam tulisan ini, juga bijak dalam mengambil kesimpulan. Sekian dari saya kurang dan lebihnya mohon maaf, saya akhiri.

          Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

Komentar

Posting Komentar